9 Mei 2011

Reuncong (Rencong), Senjata Khas Aceh

Rencong atau Rincong atau Rintjoeng adalah senjata pusaka bagi rakyat Aceh dan merupakan simbol keberanian,keperkasaan,pertahanan diri dan kepahlawanan aceh dari abad ke abad.Menurut salah satu sumber Rencong telah dikenal pada awal Islam Kesultanan di abad ke-13.
DIjaman Kerajaan Aceh Darussalam rencong ini tidak pernah lepas dari hampir setiap pinggang ( selalu diselipkan dipinggang depan ) rakyat Aceh yang rata-rata punya keberanian luar biasa baik pria maupun wanita karena rencong ini bagi orang Aceh ibarat tentara dengan bedilnya yang merupakan simbol keberanian,kebesaran,ketinggian martabat dan keperkasaan orang Aceh sehingga orang-orang portugis atau portugal harus berpikir panjang untuk mendekati orang Aceh.di masa ini Rencong mempunyai tingkatan yang menjadi ciri khas strata nasyarakat, untuk seorang Raj/Sulthan dan Ratu/Sulthanah untuk sarungnya terbuat dari gading dan untuk belatinya terbuat dari emas hingga sampai ke strata masyarakat bawah untuk sarung terbuat dari dari tanduk kerbau ataupun kayu dan untuk belati terbuat dari kuningan atau besi putih tergantung kemampuan ekonomi masing-masing.
Aceh sebagai sebuah kekuatan militer penting di dunia Melayu, dengan persenjataan yang sangat penting. Karena hubungan internasional dengan dunia barat, bentuk rencong juga mulai mengikuti perkembangannya, terutama Turki dan anak benua India.Rencong juga mempunyai kesamaan dengan blade yang dipakai oleh prajurit Turki di masa Sulthan Mahmud kerajaan Ottoman Turki dan juga Mughal scimitar dari beberapa orang dengan gaya rapiers dan daggers ( bahasa bule ) yang bergantung gantung dari ikat pinggangdi tembok gantung Madras, India tahun 1610-1620.
Rencong memiliki makna filosofi religius dan keislaman, Gagangnya yang berbetuk huruf Arab diambil dari padanan kata Bismillah. Padanan kata itu bisa dilihat pada gagang yang melekuk kemudian menebal pada bagian sikunya. Gagang rencong berbentuk huruf BA,gagang tempat genggaman merupakan aksara SIN, lancip yang menurun ke bawah pada pangkal besi dekat gagangnya merupakan aksara MIM, Pangkal besi lancip di dekat gagang yang erupai lajur-lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya melambangkan aksara LAM ,Bagian bawah sarung memiliki bentuk huruf HA, sehingga keseluruhan hurup "BA, SIN, MIM, LAM, HA", susunan huruf yang terbaca membentuk kalimat Bismillah.Ini merupakan lambang yang memperlihatkan karakteristik masyarakat Aceh yang sangat berpegang teguh pada kemuliaan ajaran Islam.
Secara umum rencong atau Rincong yang menjadi senjata andalan dalam sejarah masyarakat Aceh dikenal, ada 5 macam yaitu :

1. RIncong Meucugek :
disebut rincong meucugek karena pada gagang rencong tersebut terdapat suatu cugek atau meucugek ( dalam istilah Aceh )seperti bentuk panahan dan perekat.

2. Rincong Pudoi :
Dalam masyarakat Aceh istilah pudoi berarti belum sempurna alias masih ada kekurangan. kekurangannya dapat dilihat pada bentuk gagang rencong tersebut.

3. Rincong Meupucok :
Keunikan dari Rincong ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran dari gading atau emas. Bagian pangkal gagang dihiasi emas bermotif pucok rebung/tumpal yang diberi permata ditampuk gagang,keseluruhan panjang rencong ini lebih kurang 30 cm.bilah terbuat dari besi putih.sarungnya dibuat dari gading serta diberi ikatan dengan emas.
Keunikan dari Rincong puntong pada Hulu Puntung, dengan belati yang ditempa dengan loga, kepala Rencong dari tanduk kerbau dan sarung dari kayu.

5. Rincong Meukure:
Rincong ini mempunyai perbedaa dengan yang lain pada mata rincong yang diberi hiasan tertentu seperti gambar bunga,ular,lipan dan sejenisnya.

seiring perjalanan waktu senjata Rencong semenjank Aceh bergabung dengan Indonesia sampai sekarang perlahan-perlahan pusaka ini berubah fungsi hanya menjadi barang suvernir atau cenderamata dan pelengkap pakaian adat Aceh pengantin pria.
Rencong sebagai pertanda kehormatan, martabat dan keagungan bagi masyarakat Aceh yang heroik. 

Lalu, sejak kapan masyarakat Aceh mengenal dan familiar dengan rencong? Ada dua versi sejarah yang mengungkapkan awal mula keberadaan rencong di tengah-tengah masyarakat Aceh. Sebelum mengenal rencong sebagai senjata untuk menggempur musuh, masyarakat Aceh sudah mengenal senjata yang nama siwah. Siwah ini mirip dengan rencong. 

Namun, ia tidak mempunyai gagang. Akibatnya, ketika peperangan melawan Portugis berlangsung, pejuang-pejuang Aceh menggunakan siwah. Namun, penggunaan siwah sebagai senjata, lama kelamaan menemui kesulitan. Pejuang kita mulanya hanya mengenal keris da siwah. Pengalaman melawan Portugis ketika itu, siwah yang dipakai pejuang Aceh, sudah berlumuran darah, karena menikam musuh. Akibatnya, siwah menjadi susah untuk dipegang. Sudah licin terkena darah, kata Ridwan Azwad, penikmat sejarah Aceh dan Belanda. Maka, Sultan Al Kahhar memanggil semua pandai besi untuk merancang senjata pengganti siwah, katanya, lagi. 

Para pandai besi lalu, mengadopsi bentuk siwah dan memberikan gagang yang berbentuk huruf ba (huruf kedua dalam aksara Arab). Menurut riwayat, bahwa yang mula-mula menyuruh menciptakan senjata rencong yaitu Sultan Alaiddin Riayat Syah Al-Kahhar. 

Setelah beliau mengalami kurang praktis penggunaan siwah dan bari dalam pertempuran jarak dekat, karena dua macam senjata itu bergagang pendek menggembung ke atas sehigga sukar digenggam. Cara membuat rencong asli Aceh pun, harus mempunyai syarat-syarat tertentu.
 
Kolonel Muhammad Jassin, Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) I Iskandar Muda, dalam sebuah ceramah di depan Siswa Kursus C SSKAD di Aula Peperda Atjeh pada tanggal 16 Desember 1961. Dalam ceramah itu, Kolonel Jassin mengatakan ihwal sejarah adanya senjata rencong di kalangan masyarakat Aceh yang terkenal semangat heroiknya. 

Pengalaman Sultan Al Kahhar (1537-1568) dalam perkelahian dengan Portugis itu, terutama di atas geladak kapal (lapangan sempit), dengan mempergunakan senjata keris dan siwah mengalami kesulitan. Berhubung bila senjata itu telah berlumuran darah menjadi licin dalam mudah terlepas dari tangan. Maka, Diciptakanlah semacam senjata yang lebih praktis, dengan membengkokkan gagangnya agar jangan mudah terlepas. Yang hal itu diperdapat dari tulisan Arab, dari perkataan Bismillah


Ciptaan bentuk itu memberikan peringatan dan dorongan semangat kepada si pemakai dalam mempergunakannya, supaya selalu teringat kepada Allah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dalam Maha Penyayang demi menegakkan kebenaran, peraturan dan hukum Allah, ujar Jassin.
Karena itulah, Daerah Istimewa Aceh, selain dikenal dengan julukan Serambi Mekkah, juga dikenal dengan sebutan Tanah Rencong. 







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar